Pengaruh Algoritma Semantik Terhadap Pencarian Google

Semantik berasal dari bahasa Yunani yang berarti makna. Di dalam dunia internet bisa diartikan sebagai berikut.

Sebelum ada algoritma baru ini, jika melakukan pencarian sebuah situs dengan kata kunci “mesin traktor terbaru”, Google tidak bakalan mengenalinya, apakah dicari orang, sebuah perusahaan, atau sebuah organisasi.

Yang dilakukan Google ialah mencari seluruh situs yang tersimpan di basis datanya melalui kata-kata yang cocok dengan “mesin”, “traktor” dan “terbaru” dengan berbagai cara di halaman sebuah situs, mungkin di judulnya, di alamat situsnya.

Kemudian anggaplah menghasilkan 10 buah tautan. Kesepuluh situs ini diurut menurut kesesuaian kata yang didapat dari halaman situs tersebut. Urutan teratas merupakan situs yang paling sesuai dengan kata-kata yang menjadi kata kunci tadi, dan hasil terakhir merupakan yang paling tidak pas. Begitulah cara kerja mesin pencari sebelum ada logaritma Semantik.

Cara pencarian ini sangat lemah karena dua sebab.

Pertama, cara ini terlalu matematis, dan bisa dipermainkan.

Kedua, faktor manusia. Intinya kita dihadapkan pada situasi harus mengelik situs nomor satu yang ditampilkan.

Apakah dengan cara ini dapat memenuhi harapan kita sebagai pengguna? Belum tentu. Ketika mengklik situs nomor 2, kita pun tidak menemukan apa yang dicari, dan sangat sedikit sekali orang yang mau mencari ke halaman kedua.

Makanya, kita harus melakukan pencarian lagi dengan kata kunci lainnya. Inilah penyebab para blogger melakukan trik khusus agar terlihat di mesin pencari di halaman pertama.

Sesungguhnya, cara kerja pencarian dengan memberikan ide dari bentuk cara kerja internet. Dikarenakan pencarian telah menjadi jendela kita ke internet. Sangat penting untuk mengerti terhadap pola kerja mesin pencari agar bisa memakainya untuk kepentingan si pemakai. Makanya pencarian dengan pola ini bisa dipermainkan.

Tetapi dengan berubah ke cara semantik menjadi lebih sulit untuk dipermainkan, walaupun cara kerjanya masih sama yaitu matematis.

Dulu, dengan mempermainkan mesin pencari, orang bisa saja menempatkan sebuah situs di halaman satu halaman pencarian Google, katakanlah lebih cepat dari orang lain, karena dia tahu cara mempermainkannya. Sehingga dia bisa memperoleh lebih banyak pendapatan dari orang lain.

Dan jika suatu saat Google menemukan kecurangan yang dia lakukan, Google akan menendang situs itu dan tidak dapat lagi ditemukan di mesin pencari. Ditendang Google tidak akan menjadi masalah karena dia sudah mendapatkan banyak pendapatan dan melakukan lagi dengan situs baru dengan perbaikan disana sini. Hal ini dia lakukan berulang-ulang. Bagi dia tidak menjadi permasalahan, tetapi imbasnya kerugian untuk Google dan pemakai lainnya.

Sekarang dengan pencarian semantik, walau masih bisa dipermainkan, tetapi jika mempermainkannya tidak bisa seperti dulu lagi karena waktu dan usaha yang dibutuhkan melakukan trik culas akan sama jika dilakukan dengan cara jujur.

Kalau dicekal oleh Google disebabkan melanggar peraturannya, andalah yang akan rugi, karena harus merubah identitas, kembali dengan situs baru, profil baru, dan membangun kembali jaringan yang hilang. Artinya anda kembali ke titik nol. Inilah sebabnya anda akan merugi jika melakukan cara curang.

Google Semantik terpusat pada media sosialnya, yaitu Google Plus. Elemen sosial media Google Plus sangat memengaruhi hasil pencarian. Karena semantik sangat berhubungan sekali dengan relevan atau kecocokan antara satu faktor dengan faktor yang lain.

Contohnya. Ketika melakukan pencarian “nasi bungkus” di internet, dan melakukannya pada jam 9 pagi. Google mengenali jam 9 pagi, dan terutama jika menggunakan Handphone, esensinya anda sedang mencari informasi daripada mencari restoran untuk memesan sebungkus nasi. Ini disebabkan pada umumnya orang tidak membutuhkan sebungkus nasi pada jam 9 pagi.

Lantas dicari lagi dengan menuliskan kata kunci yang sama tetapi di waktu yang berbeda, katakanlah pada jam 12 siang. Maka hasilnya akan berbeda karena dia akan memberikan informasi mengenai letak restoran terdekat yang menyediakan sebungkus nasi sehingga anda bisa memesannya. Google tahu anda sedang kelaparan dan sedang mencari rumah makan.

Ini diketahui karena Google melacak anda melalui pencarian di masa lalu, dia tahu pola pencarian yang anda lakukan di masa lalu, dia tahu di mana biasanya anda berada. Dia mengetahui semuanya dan ini akan menghasilkan hasil yang lebih masuk akal.

Untuk melakukan semua itu, Google membutuhkan semua informasi dari seluruh sumber daya yang ada di internet. Dia menyaringnya melalui aktivitas yang anda lakukan, aktivitas di media sosial dan menghasilkan gambaran yang sangat berpengaruh luas untuk memberikan jawaban yang akurat.

Google selalu belajar. Dia memperhatikan apapun yang anda lakukan secara rinci dan menampilkan hasil pencarian yang amat akurat. Google menganalisa profil orang. Yang dilakukan oleh Google ini cukup menakutkan karena manusia selalu berfikir bahwa dia unik. Tetapi kenyataannya, manusia cukup mudah ditebak.

Google menjaring data, menghasilkan faktor yang dapat ditebak dan menghasilkan hasil pencarian yang dibutuhkan sebelum seseorang tersebut mengetahui bahwa dia membutuhkannya. Contohnya jika mau pulang ke rumah, tentu membutuhkan laporan lalu lintas sementara anda tidak sadar bahwa memerlukannya.

Pencarian melalui algoritma semantik dilakukan dengan menghubungkan seluruh data dan menilai hubungan keterkaitan antar data-data tersebut, menilai relevansi antara data, dan mengekstrak pengertian dari hubungan-hubungan tersebut. Semakin banyak data yang diperoleh, semakin pintar-lah dia.

Pusat pencarian semantik berada pada filter terakhir, yaitu aktifitas manusia. Google Plus merupakan saringan utama. Penyebabnya dikarenakan aktifitas yang dilakukan seorang sangat transparan bagi Google, dan dia memaksa manusia untuk mempunyai identitas digital pribadi.

Bagaimana kiranya jika sewaktu mencari di mesin pencari tidak log in ke Google+? Hal ini akan sangat berbeda. Di ibaratkan di dunia nyata, bagaimana anda menentukan siapa diri mereka? Anda memperhatikan bagaimana mereka berbicara, aksen-nya, mobil-nya, pakaian yang dipakai, dan di mana anda bertemu dengan mereka.

Jika anda bersua dengan seseorang di sebuah toko yang jelek di pinggiran kota, tentu akan berbeda kesan yang akan anda dapatkan jika anda bertemu dengan seseorang di toko swalayan di pusat kota. Walaupun orang tersebut memakai atribut yang sama.

Konteks dan konten yang mengitari orang tersebut memberikan anda sebuah gambaran identitas mereka, kemudian mengarahkan ke pembentukan kepercayaan. Apakah anda bisa mempercayai apa yang mereka katakan? Juga mengarahkan ke tingkat reputasi mereka, karena jika anda berbicara tentang mereka ke orang lain, maka reputasi mereka muncul dari penafsiran kepercayaan.

Begitulah kira-kira gambarannya di dunia nyata. Begitu juga di dunia maya, Google akan mempelajarinya melalui tulisan yang kita bagikan, aktivitas yang dilakukan di profil G+, tautan yang dibagikan, apa yang dikatakan, dan komentar-komentar yang diberikan. Seluruh kegiatan ini merupakan hal kecil secara perorangan, tetapi jika digabungkan menjadi keseluruhan, maka hasilnya akan luar biasa yakni berupa gambaran rinci tentang siapa diri kita.

Inilah yang dilakukan oleh Google Plus, identitas digital sudah mulai tumbuh, dikumpulkan, reputasi yang berada di internet dan akan berdampak di luar Google, yaitu dunia pencarian.

Contoh lainnya, jika anda di internet bermaksud untuk menjual mobil, menggunakan Google Plus untuk mempromosikan diri dan profesi anda. Oleh sebab itu anda berkomentar di internet atau anda membagikan suntingan orang lain mengenai mobil, semua yang dilakukan akan dilihat oleh Google. Ini akan bernilai tinggi di mata Google.

Sebaliknya jika anda seorang penjual sepatu tetapi yang sering anda beri komentar mengenai mobil, akibatnya anda akan ditinggalkan oleh Google karena tidak ada kecocokan antara profesi anda dengan kegiatan yang dilakukan di dunia maya.

Jika berada di Google Plus bisa dikatakan kembali ke zaman lama. Semua orang saling kenal satu sama lain. Jika kita menetap di suatu desa kecil pada zaman tersebut, tentu saja tidak akan mendapatkan banyak kesulitan untuk berkenalan dengan orang-orang yang ada di sekitar atau para tetangga. Tidak akan mendapatkan kesulitan untuk memperkenalkan diri dengan orang-orang tersebut. Anda akan mengerti bagaimana kebiasaan mereka sehari-hari, dan kita dengan mudah bisa membangun kepercayaan antar sesama di desa tersebut. Jika suatu saat membutuhkan sesuatu, tentunya tidak akan mendapatkan kesulitan untuk mencari apa yang dibutuhkan tersebut, karena orang desa dengan mudah memberikan petunjuk kepada siapa bisa meminta pertolongan.

Inilah yang dilakukan oleh Google Plus. Google akan mengetahui, melalui Google Plus, siapa berhubungan dengan siapa, melakukan komunikasi, bertemu dan siapa saja yang mempunyai minat yang sama dengan kita. Google membentuk persahabatan yang lebih luas bagi dunia kita di dunia maya.

Free Hit Counters
Web Site Hit Counters

Silakan sampaikan komentar Anda